RSUD Mohammad Natsir Menghadapi Akreditasi 2019
Tuesday, 12 February 2019 150 Deswira Umar

Direktur RSUD Mohammad Natsir, drg Ernoviana, M.Kes

 

Metode ReDOWS, atau regulasi, dokumentasi, observasi, wawancara dan simulasi, merupakan introdusir dari akreditasi rumah sakit dengan sistem SNARS ed.1. Selain itu, aspek pengendalian resistensi antimikroba dan pelayanan geriatri/lansia, termasuk yang menentukan dalam penilaian akreditasi sebuah rumah sakit.

Dalam rangka itu, di RSUD Mohammad Natsir sedang giat-giatnya dilakukan pembahasan pada masing-masing kelompok kerja (pokja), untuk menghadapi penilaian akreditasi yang diperkirakan akan dilakukan pada bulan Agustus 2019 yang akan datang.

“SK Pokja sudah siap. Bahkan pokja-pokja itu sudah mulai berkoordinasi secara internal untuk mempersiapkan rencana kerja dan target masing-masing,” ujar Direktur RSUD Mohammad Natsir drg Ernoviana, M.Kes.

Dikatakan, RSUD Mohammad Natsir sejak tahun 2016 hingga 2018 berhasil meraih prediket “paripurna”. “Tentu dengan akreditasi sistem SNARS edisi 1 ini, kita ingin mempertahankan prediket paripurna itu,” ujar Ernoviana.

Sementara itu, Kepala Bidang Pelayanan Medis (Yanmed) RSUD Mohammad Natsir dr Soufni Morawati, Sp.PK, yang akrab disapa Opie, mengatakan saat ini tengah diupayakan adanya pelayanan geriatri. “Kalau perlu ini bisa dijadikan ikon rumah sakit, yakni adanya bangsal khusus yang melayani para lansia. Sehingga kita bisa fokus memberikan pelayanan kepada para orang tua itu,” kata Opie, Selasa (12/2).

Demikian pula halnya dengan pengendalian resistensi antimikroba, menurut Opie langkah yang dilakukan adalah dengan memberi tanggungjawab pada pokja Pencegahan Pengendalian Resistensi Antimikroba (PPRA). “Kita minta pokja PPRA fokus pada pencegahan dan pengendalian resistensi antimikroba itu, antara lain dengan pengendalian penggunaan antibiotik, supaya tidak terjadi resistensi terhadap antibiotik,” tutur Opie. (te)