Hiperlipidemia, Cerita Tentang Kolesterol
Wednesday, 05 February 2020 1,918 Deswira Umar

Hiperlipidemia merupakan suatu keadaan dimana terjadi peningkatan kadar kolesterol dengan atau tanpa peningkatan kadar trigliserida dalam darah.

Pada hiperlipidemia terjadi kenaikan LDL tanpa penurunan kadar HDL yaitu, kadar kolesterol LDL yang tinggi (>160 mg/dl atau 4,2 mmol/l), dan kadar kolesterol total yang tinggi (>200 mg/dl atau 6,2 mmol/l).

"Antihiperlipidemia adalah obat yang digunakan untuk menurunkan kadar lipid plasma atau lemak dalam darah," kata mahasiswa Prodi Apoteker STIFAR Riau (Novi Arini dan Nurbayzura), didampingi Apoteker Dini Hara Triastuti, S.Farm, Apt saat mengedukasi pasien dan pengunjung di Instalasi rehabilitasi Medis Rumah Sakit Umum Daerah Mohammad Natsir (RSMN), Senin (3/2), bertempat di Ruang Tunggu Gedung R, Instalasi Rehabilitasi Medik.

Dikatakan, hiperlipidemia adalah kondisi ketidakseimbangan lemak dalam darah, yang ditandai dengan kadar kolesterol dan trigliserida yang tinggi. Walaupun keduanya berguna bagi tubuh, bila kadarnya tinggi akan menyebabkan penumpukan plak pada dinding pembuluh darah. Seiring waktu, plak tersebut akan membesar dan menyumbat arteri, sehingga menyebabkan penyakit kardiovaskuler, serangan jantung, dan stroke.

Tidak semua kolesterol itu penyebab hiperlipidemia. Hanya kolesterol ‘buruk’ saja yang menjadi penyebabnya. Ada dua jenis kolesterol, yaitu low density lipoprotein (LDL) dan high density lipoprotein (HDL). LDL dianggap sebagai kolesterol jahat dan HDL adalah kolesterol baik.

Hiperlipidemia bukanlah penyakit, namun sebuah serangkaian kondisi. Umumnya hiperlipidemia tidak menimbulkan gejala sampai stadiumnya sudah berat.

Disebutkan, hiperlipidemia bisa menjadi kondisi keturunan. Namun penyebab paling umumnya adalah gaya hidup tidak sehat. Dan pengaruh umur, dimana kadar LDL meningkat sejalan bertambahnya usia.

"Pria memiliki kadar LDL lebih tinggi dalam keadaan normal, tetapi memasuki usia menopause kadar LDL mulai meningkat pada wanita," ujar Dini Hara.

Selain itu, obesitas, makanan yang mengandung asam lemak jenuh, seperti mentega, margarin, whole milk,  es krim, keju, daging, kurang melakukan olahraga, merokok, diabetes yang tidak terkontrol dengan baik, dan obat-obatan tertentu yang dapat mengganggu metabolisme lemak seperti estrogen, Pil KB, kortikosteroid, diuretik tiazid (pada keadaan tertentu)

"Antihiperlipidemia adalah obat yang digunakan untuk menurunkan kadar lipid plasma atau lemak dalam darah," ujar Dini Hara.

Disebutkan, hiperlipidemia bisa dicegah secara Terapi Farmakologi. Golongan obat-obatan yang dapat mencegah dan mengatasi kolesterol antara lain, Fibrat, Statin, Niacin, Resin asam empedu dan Inhibitor Absorbsi kolesterol.

Sedangkan Terapi Non-Farmakologi antara lain adalah diet, aktivitas fisik, menurunkan berat badan, menghentikan kebiasaan merokok, diet suplemen (Fitosterol, protein kedelai, manan kaya serat, PUFA Omega 3).

"Perubahan gaya hidup adalah kunci untuk merawat dan mencegah hiperlipidemia. Bahkan jika kondisi ini diwariskan sekalipun, bila gaya hidup sehat dan tetap mengonsumsi obat yang diresepkan oleh dokter maka kondisi ini tidak akan kambuh," tegas Dini Hara.

Dini Hara menganjurkan agar selalu mengonsumsi makanan sehat seperti buah dan sayuran serta produk gandum utuh dapat menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah. Hindari konsumsi makanan yang mengandung lemak jenuh dan beralih ke produk susu bebas lemak atau rendah lemak. Selain itu, pertahankan berat badan sehat dengan rutin berolahraga dan berhenti merokok.