Kendati Bukan RS Rujukan COVID-19 di Sumbar, Namun RSMN Siapkan Penanganan Darurat
Wednesday, 04 March 2020 22 Deswira Umar

Direktur RSUD M. Natsir drg. Basyir Busnia

 

Meskipun tidak ditunjuk sebagai rumah sakit rujukan untuk penanganan pasien Coronavirus Desease (COVID-19), namun segenap jajaran Rumah Sakit Umum Daerah Mohammad Natsir (RSMN) sudah menyiapkan cara-cara penanganan bilamana terjadi kasus tersebut. 

Direktur RSMN drg Basyir Busnia, Selasa (3/3), mengatakan bahwa pihaknya secara internal sudah mengkoordinasikan dengan petugas Instalasi Gawat Darurat (IGD) dan para pihak terkait bagaimana tata laksana dan penanganan bilamana ada kasus COVID-19 terdeteksi di rumah sakit milik Pemprov Sumbar itu. 

"Saya sudah koordinasikan, dan sudah ada pula SOP untuk penanganannya. Juga kita sudah ingatkan semua petugas untuk menggunakan Alat Pelindung Diri bilamana ada pasien yang dicurigai suspect virus Corona," ujar Basyir Busnia.

Sementara itu, Ahli Penyakit Paru RSMN, dr Sari Nikmawati, Sp P secara terpisah, kepada Mtim Webroom  mengatakan bahwa Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) sudah mengeluarkan buku panduan yang di dalamnya ada Standar Operasional Prosedur (SOP) untuk  penatalaksanaan pasien COVID-19. 

"Semua dokter, terutama yang di IGD sudah kita informasikan tentang SOP itu," ujar Sari Nikmawati. 

Terkait penularan virus Corona itu sendiri, Sari Nikmawati yang sehari-hari menangani penyakit paru dan pernafasan di RSMN, mengatakan supaya masyarakat tidak perlu takut secara berlebihan.

"Tingkatkan daya tahan tubuh, dan selalu jaga kebersihan. Terutama kebersihan tangan, hand hygiene," ujarnya saat ditemui di Poliklinik Paru RSMN. 

Ditegaskan, orang dengan sistem imun lemah seperti orang tua, dan wanita hamil, lebih beresiko tertular virus corona. 

Sari juga menyebutkan, virus corona lebih cepat berkembang pada musim dingin. "Coronavirus yang lebih menyukai suhu dingin dan kelembaban tidak terlalu tinggi. Pada paparan cahaya matahari dengan suhu 56 derajat Celcius selama 30 menit, virus itu mati," imbuh Sari.

Dia mengakui, dengan telah adanya dua kasus COVID-19 di Indonesia, masyarakat memang harus waspada.  dan semi. Semua orang secara umum rentan terinfeksi. Tetapi jika daya tahan tubuh kuat, maka serangan virus tersebut dapat ditahan. 

Sedangkan terkait jahe dan kunyit yang mengandung curcuma bisa mengobati COVID-19, Sari Nikmawati mengatakan bahwa zat tersebut bisa meningkatkan daya tahan tubuh. "Curcuma itu kan bisa meningkatkan daya tahan tubuh. Jika daya tahan tubuh kuat, maka serangan virus dapat dilawan," ujarnya. 

Dikatakan, adapun infeksi COVID-19 dapat menimbulkan gejala ringan, sedang atau berat. Gejala klinis utama yang muncul yaitu demam (suhu di atas 38 C), batuk dan kesulitan bernapas. Selain itu dapat disertai dengan sesak memberat, fatigue, mialgia, gejala gastrointestinal seperti diare dan gejala saluran napas lain. 

Setengah dari pasien timbul sesak dalam satu minggu. Pada kasus berat perburukan secara cepat dan progresif, seperti sindrom gawat nafas akut (Acute Respiratory Distress Syndrome/ARDS), syok septik, asidosis metabolik yang sulit dikoreksi dan perdarahan atau disfungsi sistem koagulasi dalam beberapa hari.

Pada beberapa pasien, gejala yang muncul ringan, bahkan tidak disertai dengan demam. Kebanyakan pasien memiliki prognosis baik, dengan sebagian kecil dalam kondisi kritis bahkan meninggal. 

Bila ada gejala-gejala tersebut, dan ternyata pasien ada riwayat perjalanan atau interaksinya di kawasan yang sudah terpapar coronavirus dalam 14 hari terakhir, maka baru bisa didiagnosa yang bersangkutan mengalami COVID-19. 

"Artinya, tidak serta merta orang dengan gejala-gejala serupa itu otomatis sudah terinfeksi virus corona. Harus dipastikan apakah dalam 14 hari terakhir ada interaksi dengan orang yang sudah terkena, atau pernah berkunjung ke daerah yang sudah terpapar? Jika tidak, meskipun gejalanya sama, belum tentu dia terjangkit virus corona," ujar alumni FK Unand ini.