Hati-Hati Dengan Corona, Hindari Informasi Bagalau
Wednesday, 10 June 2020 410 Deswira Umar

Saat dunia dilanda pandemi (wabah global) dari virus corona yang menyerang kota Wuhan, Tiongkok pada Desember 2019--kemudian virus ini pun dilabeli covid-19--informasi-informasi pun simpang siur beredar, terutama di media sosial (medsos). Antara lain berkenaan dengan anggapan bahwa kematian orang yang mengidap covid-19 disebabkan bakteri, bukan virus!

Cuplikan narasi yang dikutip di WhatsApp grup yang beredar luas di tengah masyarakat, menyebutkan bahwa pada otopsi kematian Covid-19 ditemukan bahwa bukan virus, tetapi bakteri lah yang menyebabkan kematian itu. Indikasinya adalah adanya gumpalan darah yang terbentuk dan menyebabkan kematian pasien. "Italia mengalahkan apa yang disebut Covid-19, yang tidak lain adalah Koagulasi intravaskular diseminata (Trombosis). Dan cara untuk memeranginya, yaitu, penyembuhannya, adalah dengan antibiotik, anti-inflamasi, dan antikoagulan. Menurut ahli patologi Italia, ventilator dan unit perawatan intensif tidak pernah dibutuhkan," demikian narasi itu.

Nah, anda akan bingung kan? Virus atau bakteri? Untuk perbedaan dua hal ini saja akan sangat luas dampaknya, termasuk soal penggunaan Alat Pelindung Diri dan perawatan yang terisolasi.

Karena itu, ahli penyakit paru Rumah Sakit Mohammad Natsir (RSMN) dr Sari Nikmawati, Sp P, menegaskan agar masyarakat tidak terombang-ambing oleh informasi-informasi yang belum terkonfirmasi kebenarannya.

"Terus terang, mekanisme covid ini menyebabkan kematian masih banyak pendapat. Mungkin ini virus baru. Masih perlu penelitian lebih lanjut untuk mengetahui seluk beluk virus, dan mekanisme yang terjadi pada tubuh manusia saat terserang virus ini," tegas Sari.

Seorang dokter lain yang minta namanya tidak ditulis, mengatakan kematian pada pasien dengan Covid-19, beberapa di antaranya terjadi oleh karena ARDS , Aritmia dan Syok.

"Pada Keadaan ini  tentu memerlukan     ventilator. Dan sebaiknya dilakukuan pemeriksaan faktor koagulasi untuk menentukan prognosis pasien Covid 19 di ICU, jangan sampai  terjadi DIC (Diseminatet Inntravascular Coaguation).

Dokter ini juga menyinggung soal penyakit penyerta (comorbid) dan usia tua juga merupakan hal yang harus menjadi perhatian pula.

"Kalau pandemi ini dinyatakan bukan covid-19, saya kurang sependapat," tegasnya sambil menegaskan bahwa karena ini virus baru, maka masih banyak hal yang harus dipelajari, dan diteliti terus.