Terkait Pro Kontra Rapid Tes, Ini Pendapat Ahli Patologi Klinis RSMN
Wednesday, 15 July 2020 1,758 Deswira Umar

Dr. Soufni Morawati, Sp PK

 

Pemeriksaan Rapid Test antibodi virus SARS-CoV-2 dengan hasil non reaktif tidak dapat menjamin seseorang tidak terpapar virus SARS-CoV-2, sehingga tidak dapat dinyatakan bebas dari virus SARS-CoV-2.

Demikian dikatakan dr Soufni Morawati, Sp PK, Ahli Patologi Klinis Rumah Sakit Umum Mohammad Natsir (RSMN) saat diminta pendapatnya atas perdebatan tentang akurasi dan efektivitas Rapid Test itu, kepada Webroom, Rabu (15/7).

Dikatakan, pemeriksaan Rapid Test antibodi virus SARS-CoV-2 memiliki sensitivitas dan spesifitas yang tidak tinggi (60-70%), hal ini terjadi karena pada saat dilakukan pemeriksaan belum terbentuk antibodi terhadap virus tersebut.

"Biasanya antibodi terdeteksi setelah lebih tujuh hari dari kontak, sehingga banyak kemungkinan terjadi hasil negatif palsu maupun positif palsu yang dampaknya dapat berbahaya dan merugikan," ungkap dokter yang akrab disapa Opie ini.

Dokter Opie menyarankan, sebaiknya tidak memberlakukan pemeriksaan Rapid Test antibodi virus SARS- CoV-2 ini sebagai persyaratan perjalanan orang berpergian ataupun untuk penegakan diagnosa Covid 19!

Berbeda dengan Rapid Test, menurut Dokter Opie, Tes Cepat Molekuler (TCM) dengan menggunakan antigen virus SARS-CoV-2, atau Polimerase Chain Reaction (PCR) virus SARS- CoV-2 yang umum dikenal sebagai tes swab dan banyak diterapkan, lebih baik dan bisa menjadi acuan.

 

Ditambahkan, pengukuran suhu tubuh dan pengukuran saturasi oksigen dengan menggunakan Fingertip Pulse Oximeter, dapat digunakan untuk skrining saat masyarakat hendak memasuki area kerumunan seperti di perkantoran, bank, rumah ibadat, dll.

Sedangkan penerapan protokol kesehatan secara ketat dan benar (pakai masker dan face shield, jaga jarak, cuci tangan) selama dalam perjalanan, serta menjaga sirkulasi udara yang bersih dalam kendaraan, kereta api dan pesawat udara, juga efektif untuk menghindari penularan covid-19.